Puisi|-Tentangmu Yang Gagal Menjadi Kita

 Di penghujung Mei hujan masih menyimpan banyak rintik 

Mendung masih menjadi misteri

Akankah tumpah ke tanah rintik yang sudah pengap penuh sesak saling berjejalan

Ataukah senja datang menutupi langit menjadi jingga yang sendu

Tiba-tiba aku teringat luka yang kusayat beberapa bulan lalu

Di hari raya saat orang-orang berbahagia, saat itu aku merayakan kehancuranku sendiri


Aku tidak pernah memaki kamu sebagai masa lalu yang menyakitkan

Tapi kita yang sudah begitu dalam, mengapa begitu cepat pula asing dan hilang?

"Seharusnya, aku yang mendampingimu di pelaminan"

"Seharusnya, aku yang kau gandeng dengan gagah pada hari itu"

Hati kecilku menangis memotret fakta bahwa bukan aku orangnya 


Dan, aku ditengah kehancuranku masih memungut kembali keping-keping keberanian untuk datang 

Menemuimu, mengatakan selamat berbahagia di hari yang ku kira adalah milik kita

Kaki mungilku adalah aset paling mahal

Otakku kehilangan logika

Hatiku jangan ditanya, hancur bagai puing kaca yang dilempar oleh amarah tiada terkira


Di akhir kisah ini, walaupun luka itu masih begitu sakit

Dan akupun tidak tahu kapan luka ini bisa sembuh kembali

Aku akan pulih

Aku ingin pulih

Merayakan diriku sendiri 

Mengingatmu sebagai bagian dari hidup yang paling indah

Mengingatmu sebagai bagian dari hidup yang paling menyakitkan

Mengingatmu sebagai bagian dari pelajaran hidup

Nganjuk, 1 Juni 2025.



Komentar

Postingan Populer