Puisi|-Di Stasiun: Tentangmu, Pertemuan, dan Perpisahan
Sumber: pexels.com
Di stasiun. Orang-orang melata di lorong-lorong gelap. Menuntut pertemuan, memaki perpisahan. Denting sirine kereta memintal kesunyian. Sepi, mencabik-cabik dada tanpa ampun. Detik-detik sebelum tanggal, dan kita kelewat mengumpat nasib. Nasib memisahkan orang-orang terdekat, di stasiun. Anak muda dengan pacarnya, bapak dengan anaknya, suami dengan istrinya, kakek dengan cucunya, kakak dengan adiknya. Dan kau sudah lama berpisah dengan rasa itu, jauh sebelum stasiun menjadi altar perpisahan banyak orang.
Di stasiun kau bertemu dia, dan kau jatuh cinta. Di stasiun kau melihat rambutnya di jamah angin, tergerai anggun. Seakan menyapamu dan merayumu untuk segera memilikinya. Saat dia tersenyum, dunia berhenti. Jantungmu beku, hatimu terkunci, rasamu terpatri. Stasiun adalah rumah, kampung halaman untukmu melihat senyumnya yang indah. Sebelum waktu perpisahan yang jahat itu tiba, dan kau membenci semuanya.
Di stasiun pula kau berpisah dengan dia, membunuh berbagai rasa. Di stasiun kau membangun rasa itu megah, untuk kemudian menghancurkannya tak bersisa. Dan stasiun mengungkungmu, memenjarakanmu dalam penyesalan dan tangis, tragis. Saat dia memilih merdeka dari hatimu, namun hatimu masih dijajah olehnya. Di stasiun kata-kata tak lagi mewakili suaramu. Lebih banyak kata-kata rumpang, tumpang tindih di rel-rel rimpang. Kemudian kau pergi, mengubur dalam-dalam kisahmu. Meninggalkan stasiun sebagai benda mati yang bisu. Bersisa tentangmu, pertemuanmu, dan perpisahanmu sebagai elegi.


Komentar
Posting Komentar