Puisi|-Berlin(1)
Sumber: pixabay.com
Udara membuncah liar di langit Berlin
Di Berlin udara bersenggama dengan angin
Membawa sendu yang asing, di gedung-gedung tua bekas perang
Masih tersisa serpihan-serpihan luka, di beranda rumah panti jompo
Dan di Gereja, mata memerangkap lanskap yang rumpang
Tentang masa lalu, dan perayaan orang-orang mati
Di Berlin malam menjelma tangan Tuhan yang ramah
Lampu-lampu kafe tidak pernah benar-benar menyala
Berlin tidak pernah membutuhkan cahaya
Disini gelap lebih dibutuhkan, daripada terang yang penuh kebohongan
Tak ada kasih sayang dan belas kasihan
Jangan pernah menggambar cinta
Sekalipun jangan
Di kota ini, orang-orang lebih mencintai rasa sakit dibanding cinta itu sendiri
04-04-2024, Berlin Imajiner.


Komentar
Posting Komentar