Puisi|-Berlin (2)
Sumber: pixabay.com
Membawa nyanyian tentang rindu dan kesepian
Namun, tangis sudah terlalu lelah mengadu pada langit
Langit yang tak pernah mengerti rasa sakit
Tak ada serapah dan makian
Yang ada hanya penyesalan pada serpihan-serpihan luka usang di masa lalu
Sudahkah kau sembuhkan?
Sudahkah kau terima?
Sudahkah kau relakan?
Sudahkah kau ikhlaskan?
Sudah sejauh ini, berpuluh-puluh mil meninggalkan kampung halaman
Adakah kota ini sedikit meredakan sakitmu?
Atau kota ini hanyalah tempat persembunyianmu
Hei, rebahkanlah tubuhmu pada altar-altar suci
Lihatlah mereka yang terluka oleh sejarah dan perang
Lihatlah kompleks perumahan tua tanpa penghuni
Oberbaumbrücke yang sendu
Reichstagsgebäude yang senyap
Lalu berhentilah pada Berliner Dom yang kelam
Tak ada dendam pada masa lalu,
Cukuplah sejarah membantai jutaan manusia
Tapi, kota ini tiada pernah memaki, apalagi kelewat membenci
Lalu masihkah kau bawa semuanya itu, masa lalu dari kampung halaman nun jauh
Sebelum datang sore yang dihujani salju, kau tak pernah belajar pada tanah
Tanah Berlin yang tabah
Menerima begitu banyak lara, tubuh-tubuh yang mati
Melumat semuanya, menumbuhkan akar pohon
Menyemai kota yang baru
05-04-2024, Berlin Imajiner.
Menerima begitu banyak lara, tubuh-tubuh yang mati
Melumat semuanya, menumbuhkan akar pohon
Menyemai kota yang baru
05-04-2024, Berlin Imajiner.


Komentar
Posting Komentar