Puisi|-Rumah Kayu
Dan manusia-manusia berjalan seperti burung
Membuat sarang dari kayu-kayu dan ranting-ranting kering yang usang
Sementara segelintir manusia lain di luar rumah
Memakan roti di ruangan berpendingin
Berbincang dan mencoba mengacak-acak hitungan
Di rumah kayu manusia memangkas jarak
Memangkas identitas, ras, dan asal muasal
Manusia-manusia itu pembangun kota
Menjajaki tanah-tanah sejengkal demi sejengkal
Hingga tidak bersisa lagi tanah yang murni
Yang tersisa hanya gedung-gedung tinggi dan gemerlap di jalanan yang macet
Dan manusia-manusia itu masih tetap setia tinggal di rumah kayu
Bahkan hingga renta mereka tetap saja disana
Hingga mereka benar-benar pergi dan diberhentikan oleh waktu
Tapi rumah kayu masih saja menampung orang-orang baru
Manusia-manusia yang terhimpit
Sementara sebagian kecil manusia yang mengacak-acak hitungan tetap saja sama
Tetap rakus dan haus
Dan begitulah kehidupan manusia-manusia di rumah kayu

Komentar
Posting Komentar