Puisi|- Ironi Petani
Aku tahu tanah-tanah ini adalah ilusi semata
Hamparan sawah ini adalah dusta
Kau tahu, burung-burung kemarin mengabarkannya
Mereka tak lagi bercengkrama dengan langit
Suara siulan merekapun terdengar pelik
Padi, jagung,ketela,dan pepohonan mogok menari dengan angin
Padahal kemarin mereka masih sempat bersenda gurau
Di gubuk kecil petani masih menyimpan puing-puing harapan
Caping dan cangkul masih menjadi simbol asanya
Namun, sungguh malang wahai petaniku
Harapan hanyalah cerita di negeri dongeng
Mereka tidak akan mengotori tangannya dengan bualan-bualan harapanmu
Lihat kau masih saja kelaparan
Kau masih saja tidur terusik
Kau masih menjadi boneka kambing mereka
Yang dengan gampang dipermainkan dan ditindas
Wahai petaniku
Air irigasi akan terus mengalir di pelupuk matamu yang bening:air matamu
Suara paraumu masih menjadi dzikir-dzikir alam,yang terus bergema dibalik rimbunnya dedaunan
Walaupun suara paraumu itu,masih coba dibisukan mereka
Namun petaniku tetaplah petani
Petaniku akan tetap menanam
Menanam di pasar
Di jalan raya
Di toko-toko megah
Di mal-mal mewah
Menanam di emperan gedung
Bahkan menanam di Istana mereka yang agung
Petaniku akan tetap tersenyum.

Komentar
Posting Komentar