Experience|- Mendaki Gunung Wilis
Gunung.Siapa yang tidak senang melihat gunung,hanya dilihat saja gunung selalu indah dan mempesona.Apalagi kalau kita berkesempatan untuk mendaki,merasakan sensani berada dipuncaknya.Saya sebelumnya sudah pernah melakukan pendakian gunung sebanyak 1 kali,Gunung Wilis itulah gunung yang saya daki.Pada kesempatan kali ini saya akan menceritakan pengalaman pendakian saya yang ke-2,masih tetap ditempat yang sama yaitu Gunung Wilis.
Bermula dari kejenuhan yang menyesakki setiap aktivitas yang saya lakukan,saya pun akhirnya memutuskan untuk mengajak beberapa teman saya melakukan pendakian.Karena berdasarkan pengalaman pertama saya mendaki,setelah kita selesai melakukan pendakian kita akan menjadi lebih rileks dan bugar.Kegiatan sehari- hari pun bisa dilakukan dengan mood yang sudah tertata,sehingga kejenuhan tidak hinggap lagi menyesakki rutinitas sehari-hari.Saya mengajak ke-4 teman saya untuk mendaki Gunung Wilis, mereka adalah Wahyu,Edo,Deni,dan Fidix.Wahyu sudah beberapa kali melakukan pendakian, ia juga merupakan salah seorang teman yang mengenalkan saya dengan kegiatan mendaki.Saat pendakian pertama saya dulu,salah seorang diantara teman mendaki saya juga adalah Wahyu.Sedangkan bagi Edo,Deni,dan Fidix ini adalah pengalaman pertama bagi mereka melakukan pendakian.
Kami berangkat sekitar jam setengah 5 sore dari rumah,kami membawa motor untuk menuju tempat start pendakian yang jaraknya cukup jauh.Sampai di tempat start pendakian matahari telah tenggelam,kamipun memutuskan untuk shalat magrib terlebih dahulu setelah itu baru memulai pendakian. Setelah semua persyaratan administrasi telah selesai kami urus di posko pendakian,kami pun mulai mendaki.Kami memilih jalur pendakian via Bajulan.Kami melewati jalanan setapak yang sengaja dibuat berbatu,batu-batu berukuran sedang hingga kecil ditata sedemikian rupa agar ketika hujan turun jalanan tidak licin.Di kanan dan kiri jalan rumah-rumah penduduk berjajar rapi.Beberapa waktu berlalu kamipun menemui jalanan yang sudah berganti,jalanan setapak khas persawahan.Tidak ada rumah-rumah penduduk,di kanan dan kiri jalan yang terhampar hanya sawah dan kebun.
Pukul 08.00 malam kami mulai merasakan kesulitan,trek semakin terjal dan meliuk-liuk.Trek ini merupakan jalur menuju pos satu,berdasarkan pengalaman pendakian saya yang pertama memang trek menuju pos satu merupakan trek yang terpanjang dan tersulit.Kami harus benar-benar bersabar melewati pos ini,ketiga teman saya yang baru pertama kali mendaki terlihat kewalahan.Beberapa saat berlalu sampailah kami di pos satu yaitu pos panjer ,disana kami beristirahat sejenak sambil menegak air minum yang kami bawa.Setelah dirasa cukup kami pun melanjutkan pendakian lagi,kali ini trek lumayan bersahabat.Tidak ada trek terjal dan meliuk-liuk seperti tadi,yang ada hanya jalanan datar dan sesekali menurun.Namun trek mudah hanya berjalan singkat,setelah itu trek pendakian kembali seperti semula.Itulah seni mendaki kadang-kadang sangat mulus menyenangkan,kadang-kadang sangat susah menyulitkan.
Pukul 09.45 malam kami hampir mendekati puncak sekartaji,dari tempat ini kami sudah bisa melihat pemandangan yang menakjubkan.Lampu-lampu kota dan rumah-rumah penduduk berpendar-pendar menyala,jumlahnya banyak sekali bak gugusan bintang yang menghambur membentuk formasi.Kami sangat senang dengan apa yang kami lihat,sedikit demi sedikit lelah yang membelenggu tubuh kami mulai terbayar.Kota Nganjuk dan Kota Kediri sangat mempesona terlihat dari sini,ketiga teman saya yang baru pertama kali mendaki sangat takjub dengan pemandangan yang tersaji.
Tepat pukul 10.00 malam kami sampai di puncak Sekartaji,tempat yang kami tuju.Kami berhasil,kami berhasil menaklukan tujuan kami.Dan saya berhasil menginjakkan kaki ditempat ini untuk kedua kalinya.Setelah puas menikmati keberhasilan,kami pun mendirikan tenda dan memasak bekal yang kami bawa.Seusai makan malam kami pun bergegas masuk tenda untuk beristirahat,menunggu esok pagi sang surya muncul dengan kilau indahnya.Klimak dari seluruh perjalanan yang kami lakukan,pelampiasan terbaik atas lelah yang kami keluarkan.
Saat pagi datang kami melihat matahari perlahan-lahan merangkak dari balik pegunungan,membius siapa saja yang melihatnya pada saat itu untuk tidak berkedip.Kami benar-benar bersyukur,perjalanan kali ini benar-benar sempurna.Ini pendakian kedua saya dan ini pendakian yang sangat berkesan bagi saya,jika dulu di pendakian pertama saya tidak berkesempatan menyimak sunrise.Tapi di pendakian saya kali ini,rasa penasaran saya terjawab.Saya menyimak sunrise,menyaksikan matahari begitu anggun dengan kilau indahnya.Tak lupa saya mengabadikan beberapa momen yang akan menjadi potongan kisah hidup saya,yang tentunya tidak akan saya lupakan seumur hidup.
Itulah pengalaman saya mendaki Gunung Wilis,tepatnya puncak Sekartaji.Jika kalian belum pernah mendaki,keluarlah dari zona nyaman.Bawa diri kalian merasakan sensani berbeda lewat mendaki,taklukan perasaan takut kalian.Mulailah untuk menaklukan diri sendiri,karena dengan mendaki berarti kita telah menaklukan diri kita sendiri.
Bermula dari kejenuhan yang menyesakki setiap aktivitas yang saya lakukan,saya pun akhirnya memutuskan untuk mengajak beberapa teman saya melakukan pendakian.Karena berdasarkan pengalaman pertama saya mendaki,setelah kita selesai melakukan pendakian kita akan menjadi lebih rileks dan bugar.Kegiatan sehari- hari pun bisa dilakukan dengan mood yang sudah tertata,sehingga kejenuhan tidak hinggap lagi menyesakki rutinitas sehari-hari.Saya mengajak ke-4 teman saya untuk mendaki Gunung Wilis, mereka adalah Wahyu,Edo,Deni,dan Fidix.Wahyu sudah beberapa kali melakukan pendakian, ia juga merupakan salah seorang teman yang mengenalkan saya dengan kegiatan mendaki.Saat pendakian pertama saya dulu,salah seorang diantara teman mendaki saya juga adalah Wahyu.Sedangkan bagi Edo,Deni,dan Fidix ini adalah pengalaman pertama bagi mereka melakukan pendakian.
Kami berangkat sekitar jam setengah 5 sore dari rumah,kami membawa motor untuk menuju tempat start pendakian yang jaraknya cukup jauh.Sampai di tempat start pendakian matahari telah tenggelam,kamipun memutuskan untuk shalat magrib terlebih dahulu setelah itu baru memulai pendakian. Setelah semua persyaratan administrasi telah selesai kami urus di posko pendakian,kami pun mulai mendaki.Kami memilih jalur pendakian via Bajulan.Kami melewati jalanan setapak yang sengaja dibuat berbatu,batu-batu berukuran sedang hingga kecil ditata sedemikian rupa agar ketika hujan turun jalanan tidak licin.Di kanan dan kiri jalan rumah-rumah penduduk berjajar rapi.Beberapa waktu berlalu kamipun menemui jalanan yang sudah berganti,jalanan setapak khas persawahan.Tidak ada rumah-rumah penduduk,di kanan dan kiri jalan yang terhampar hanya sawah dan kebun.
Pukul 08.00 malam kami mulai merasakan kesulitan,trek semakin terjal dan meliuk-liuk.Trek ini merupakan jalur menuju pos satu,berdasarkan pengalaman pendakian saya yang pertama memang trek menuju pos satu merupakan trek yang terpanjang dan tersulit.Kami harus benar-benar bersabar melewati pos ini,ketiga teman saya yang baru pertama kali mendaki terlihat kewalahan.Beberapa saat berlalu sampailah kami di pos satu yaitu pos panjer ,disana kami beristirahat sejenak sambil menegak air minum yang kami bawa.Setelah dirasa cukup kami pun melanjutkan pendakian lagi,kali ini trek lumayan bersahabat.Tidak ada trek terjal dan meliuk-liuk seperti tadi,yang ada hanya jalanan datar dan sesekali menurun.Namun trek mudah hanya berjalan singkat,setelah itu trek pendakian kembali seperti semula.Itulah seni mendaki kadang-kadang sangat mulus menyenangkan,kadang-kadang sangat susah menyulitkan.
Pukul 09.45 malam kami hampir mendekati puncak sekartaji,dari tempat ini kami sudah bisa melihat pemandangan yang menakjubkan.Lampu-lampu kota dan rumah-rumah penduduk berpendar-pendar menyala,jumlahnya banyak sekali bak gugusan bintang yang menghambur membentuk formasi.Kami sangat senang dengan apa yang kami lihat,sedikit demi sedikit lelah yang membelenggu tubuh kami mulai terbayar.Kota Nganjuk dan Kota Kediri sangat mempesona terlihat dari sini,ketiga teman saya yang baru pertama kali mendaki sangat takjub dengan pemandangan yang tersaji.
Tepat pukul 10.00 malam kami sampai di puncak Sekartaji,tempat yang kami tuju.Kami berhasil,kami berhasil menaklukan tujuan kami.Dan saya berhasil menginjakkan kaki ditempat ini untuk kedua kalinya.Setelah puas menikmati keberhasilan,kami pun mendirikan tenda dan memasak bekal yang kami bawa.Seusai makan malam kami pun bergegas masuk tenda untuk beristirahat,menunggu esok pagi sang surya muncul dengan kilau indahnya.Klimak dari seluruh perjalanan yang kami lakukan,pelampiasan terbaik atas lelah yang kami keluarkan.
Saat pagi datang kami melihat matahari perlahan-lahan merangkak dari balik pegunungan,membius siapa saja yang melihatnya pada saat itu untuk tidak berkedip.Kami benar-benar bersyukur,perjalanan kali ini benar-benar sempurna.Ini pendakian kedua saya dan ini pendakian yang sangat berkesan bagi saya,jika dulu di pendakian pertama saya tidak berkesempatan menyimak sunrise.Tapi di pendakian saya kali ini,rasa penasaran saya terjawab.Saya menyimak sunrise,menyaksikan matahari begitu anggun dengan kilau indahnya.Tak lupa saya mengabadikan beberapa momen yang akan menjadi potongan kisah hidup saya,yang tentunya tidak akan saya lupakan seumur hidup.
Itulah pengalaman saya mendaki Gunung Wilis,tepatnya puncak Sekartaji.Jika kalian belum pernah mendaki,keluarlah dari zona nyaman.Bawa diri kalian merasakan sensani berbeda lewat mendaki,taklukan perasaan takut kalian.Mulailah untuk menaklukan diri sendiri,karena dengan mendaki berarti kita telah menaklukan diri kita sendiri.




Komentar
Posting Komentar