Artikel|- Politik Menggelitik Pemuda Mengkritik


           Pemuda dan politik merupakan dua elemen yang tidak dapat dipisahkan. Keberadaan pemuda dalam politik sangatlah diperlukan untuk menjadi pengamat dan pengontrol rezim penguasa yang memiliki kekuasaan tanpa batas. Tak dapat dipungkiri kehidupan kita diatur dan dibentuk oleh politik itu sendiri. Hukum, Ekonomi, Pendidikan, Sosial Budaya, Olahraga, dan hampir seluruh sendi kehidupan kita ditata sedemikian rupa oleh satu muara : politik.

Sejarah telah mencatat kekuasaan tanpa batas yang dimiliki politik, hanya akan menghancurkan dan memperbudak manusia. Hal ini terbukti  dengan adanya sejarah  kelam bangsa Indonesia, yang manusianya diperbudak dan ditindas oleh politik penguasa. Kedigdayaan kolonial Belanda dalam bidang politik menguasai hampir seluruh sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia.  Di tengah – tengah penindasan itu pemuda datang dan bergerak melawan ketidakadilan tersebut.

Berikut merupakan beberapa fase pemuda Indonesia, dalam melawan ketidakadilan politik :

Fase 1908
Pada fase ini pemuda mulai menyatukan kekuatan berskala nasional, fase ini ditandai dengan berdirinya organisasi nasional pertama yaitu Budi Utomo. Fase ini juga disebut sebagai fase kebangkitan nasional. Walaupun fase ini masih belum banyak mengubah tatanan kolonial Belanda yang masih mendominasi, tapi setidaknya pada fase ini berakhirlah perjuangan para pemuda berskala daerah. Sebelum fase ini pemuda masih berjuang melawan kolonialisme dengan kekuatan seadanya.

Fase 1928
Pada fase ini para pemuda memperkuat eksistensinya dalam melawan ketidakadilan politik penguasa. Fase ini ditandai dengan peristiwa sumpah pemuda. Seluruh pemuda dari penjuru tanah air berkumpul menggalang kekuatan dan menyatakan ikrar : berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu. Ikrar dan pertemuan tersebut bukanlah suatu hal yang biasa saja, melainkan suatu komitmen yang sama untuk menggulingkan ketidakadilan politik penguasa.


Fase 1945
Pada fase ini pemuda adalah penentu yang mampu membebaskan bangsa Indonesia dari kekejaman dan ketidakadilan kolonialisme politik penguasa. Kalau saja saat itu golongan muda tidak mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, mungkin saja hingga saat ini kita masih terkurung dalam belenggu penjajahan.

Fase 1966
Pada fase ini pemuda memiliki peran memulihkan ideologi bangsa Indonesia.  Kondisi politik dan perekonomian yang semakin semrawut dan kacau akibat perseteruan ideologi berkepanjangan, membuat para pemuda terjun untuk meluruskan ideologi bangsa Indonesia. Pada fase ini pemuda berhasil mewujudkan tuntutannya yang ditandai dengan dilarangnya komunisme di Indonesia.

Fase 1998
Pada fase ini pemuda memiliki andil besar menyingkap tertutupnya kebenaran dan pembodohan – pembodohan. Otoritarianisme yang merajalela dan korupsi akut dimana-mana, membuat para pemuda bergerak membebaskan bangsa ini dari penjajahan bangsanya sendiri. Pemuda akhirnya mampu membuat sejarah baru , dimana mereka melahirkan politik yang beradab berdasarkan demokrasi bukan otoritarianisme. Fase ini ditandai dengan kebebasan pers, kebebasan berpendapat dan kebebasan berdemonstrasi. Fase ini membuat sejarah baru bangsa Indonesia yang kita kenal dengan era reformasi.

Kelima fase diatas telah menjadi tonggak kebenaran sejarah yang tidak dapat disangkal , bahwa pemuda adalah hati nurani dan pikiran rakyat. Apabila ada sesuatu yang kurang pas dan tidak sesuai dengan kepentingan rakyat, pastilah pemuda sebagai garda terdepan rakyat akan bertindak.

Akhir – akhir ini kita melihat realitas bahwa pemuda benar – benar mengawal kehidupan politik dan demokrasi Indonesia. Situasi politik yang semrawut jelang berakhirnya masa jabatan para elit penguasa, membuat para pemuda bertindak nyata. Kontroversi RUU baru di berbagai bidang, seperti : RUU KPK, RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Ketenagakerjaan, dan lain – lain meembuat para pemuda beraksi menyuarakan aspirasi. Ribuan pemuda turun ke jalan utnuk menyuarakan keadilan, beberapa bahkan datang ke berbagai media untuk berjuang lewat jalur diskusi. 
Menurut saya apa yang dilakuakan oleh pemuda akhir – akhir ini bukanlah tanpa alasan, mereka hanya menyuarakan keresahan akan rencana pembatasan kebebasan. Amanah reformasi  yang sudah mereka kawal lebih dari 20 tahun, perlahan – lahan mulai dikebiri. Kebebasan – kebebasan yang telah mereka lahirkan lewat keringat, pertumpahan darah, bahkan nyawa perlahan – lahan mulai dipersempit dan dipersulit.

Apa yang kita lihat saat ini dalam perpolitikan Indonesia adalah suatu hal yang pahit.  Politik Indonesia lama – kelamaan bukannya semakin maju , malah semakin mundur. Hal ini jika cermati salah satunya disebabkan oleh sangat sedikitnya pemuda yang terlibat langsung dalam politik, pemuda tidak memiliki akses dari dalam untuk merealisasikan ide – idenya. Menurut data Formappi sekitar 53% anggota Dewan Perwakilan Rakyat terpilih 2019 – 2024 adalah petahana. Harian Kompas memaparkan fakta turunnya representasi kaum muda dalam politik secara signifikan.

Penlitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas beberapa waktu lalu menyebut anggota DPR terpilih yang berusia dibawah 40 tahun hanya 72 orang , turun dari 92 orang dibandingkan periode sebelumnya. Data diatas jelas menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda dalam dunia politik masih sangat kecil, kaum muda dalam perpolitikan masih menjadi kaum minoritas. Bila hal ini terus terjadi tentu perubahan juga akan sulit terwujud, karena seperti yang kita ketahui sejatinya pemuda adalah agent of change (agen perubahan) dalam segala bidang.

Terakhir untuk menutup  opini yang saya tulis , izinkanlah opini ini tertutup oleh kata – kata magis Sutan Syahrir. Beliau berkata bahwa “kemerdekaan bukanlah tujan akhir, rakyat yang bebas berkarya adalah puncaknya”.

Komentar

Postingan Populer