Puisi|- Kisah Semesta (2)
Saat bumi termenung dalam diamnya
Saat Matahari membias di ufuk cakrawala
Saat Malam terlelap dalam sunyi gelapnya
Ketidaksejajaran ada pada setiap detik
Memantik kita untuk tak berkutik
Pada semesta yang agung ini
Pada bumi yang megah kita huni
Awan telah mengangkat air laut ke atas,
tanda yang tak terucapkan akan terucap
Rintik telah turun,anak hujan itu menjadi penghimpun
Dedaunan,rerumputan,pepohonan,dan hutan-hutan mengangguk pelan
Bersenang atas apa yang telah datang
Hewan-Hewan terlaurut dalam ria
Ikut merayakannya dengan gembira
Kini bumi tak ubahnya bagai rumah tawa
Meleburkan unsur-unsur semesta dalam lantunan bahagia
Yang berawal dari ketidaksejajaran hanyalah awal
Pada akhirnya semesta datang dengan cerita yang berbeda
Memaksa unsur-unsurnya untuk tunduk pada presepsinya sendiri
Bahwa yang tercipta saat ini,berawal dari ketidaksejajaran saat itu.
Saat Matahari membias di ufuk cakrawala
Saat Malam terlelap dalam sunyi gelapnya
Ketidaksejajaran ada pada setiap detik
Memantik kita untuk tak berkutik
Pada semesta yang agung ini
Pada bumi yang megah kita huni
Awan telah mengangkat air laut ke atas,
tanda yang tak terucapkan akan terucap
Rintik telah turun,anak hujan itu menjadi penghimpun
Dedaunan,rerumputan,pepohonan,dan hutan-hutan mengangguk pelan
Bersenang atas apa yang telah datang
Hewan-Hewan terlaurut dalam ria
Ikut merayakannya dengan gembira
Kini bumi tak ubahnya bagai rumah tawa
Meleburkan unsur-unsur semesta dalam lantunan bahagia
Yang berawal dari ketidaksejajaran hanyalah awal
Pada akhirnya semesta datang dengan cerita yang berbeda
Memaksa unsur-unsurnya untuk tunduk pada presepsinya sendiri
Bahwa yang tercipta saat ini,berawal dari ketidaksejajaran saat itu.

Komentar
Posting Komentar